Lahan Gambut Tropis Tertua di Dunia Kedapatan di Pedalam Kalimantan

Daniel Gavin, profesor di Department of Geography University of Oregon, yang turut menjadi salah satu peneliti dalam riset ini, mengatakan bahwa temuan ini telah memberikan wawasan baru tentang iklim hutan hujan di wilayah ekuator, terutama selama zaman es

Zaman es atau periode glasial adalah periode ketika suhu bumi turun drastis selama bertahun-tahun atau dalam jangka waktu sangat lama sehingga menyebabkan peningkatan jumlah pembentukan es di kutub dan gletser gunung. Menurut para ahli, periode glasial terjadi berulang kali dengan diselingi masa-masa yang lebih hangat yang disebut sebagai masa interglasial. Adapun zaman es terakhir adalah priode glasial terakhir yang diperkirakan berlangsung antara 110.000 tahun hingga 10.000 tahun lalu.

Berdasarkan ketebalan lahan gambut yang ditemukan ini, Monika Ruwaimana menyimpulkan bahwa situs Putussiba tidak begitu terganggu oleh deforestasi dan koversi lahan seperti kebanyakan daerah lain di Indonesia.

“Kami pikir lapisan situs Putussibau akan lebih tipis karena orang sudah membangun jalan di atasnya,” ujarnya. “Tapi yang mengejutkan, kami menemukan kedalaman 17 hingga 18 meter. Sebagai perbandingan, rata-rata kedalaman lahan gambut di Indonesia adalah 5 sampai 6 meter.”

Umumnya, situs pesisir mengandung lahan gambut dangkal. Sebab, lahan gambut di pesisir baru mulai terbentuk setelah zaman es terakhir berakhir dan setelah permukaan laut stabil, yakni antara 4.000 dan 7.000 tahun lalu.

Lahan gambut di pedalaman Kalimantan ini merupakan lahan gambut tropis tertua di dunia yang pernah ditemukan dan mungkin memang merupakan lahan gambut tropis tertua yang masih tersisa di bumi ini. Jadi, mungkin juga, lahan gambut pedalaman ini merupakan lahan gambut yang mengandung kepadatan karbon terbesar di dunia saat ini.

“Lahan gambut pedalaman ini mungkin memainkan peran penting dalam iklim dan penyimpanan karbon sebelum dan selama zaman es terakhir,” ujar Monika.

Dengan adanya temuan lahan gambut yang kedalamannya mencapai 18 meter ini, para peneliti menyarankan adanya pembaruan terhadap data karbon yang tersimpan di Indonesia. Menurut mereka, perkiraan sebelumnya bahwa jumlah total karbon yang tersimpan di Kalimantan adalah 9,1 gigaton dan di Indonesia adalah 25,3 gigaton, itu terlalu rendah. Namun begitu, kata Monika, dibutuhkan lebih banyak data untuk melakukan perhitungan lanjutan agar hasilnya lebih akurat.

Monika menjelaskan lebih lanjut bahwa lahan gambut di Indonesia menyimpan banyak karbon organik dan memainkan peran penting dalam siklus karbon dunia hingga saat ini. Hasil penelitian terbaru yang diterbitkan oleh Estelle Chaussard, ahli geologi dari University of Oregon, dan timnya menunjukkan bahwa rusaknya dan hilangnya lahan gambut telah menjadikan Indonesia sebagai penghasil utama karbon dioksida di atmosfer dunia.

“Membakar lahan gambut bukanlah perbuatan yang baik,” ujar Monika. “Hal ini menimbulkan asap beracun, menurunkan permukaan air, dan melepaskan banyak karbon.”

Monika menyebut contoh, “Kebakaran yang berlangsung selama dua bulan pada tahun 1997 menjadikan Indonesia sebagai penghasil karbon nomor 1 pada tahun itu. Kebakaran tahun 2015 (di Indonesia) juga telah menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas pada setengah juta orang dan menutup bandara di seluruh Asia Tenggara.”

Center for International Forestry Research (CIFOR), lembaga nirlaba yang bergerak di bidang lingkungan, pernah menjelaskan bahwa lahan gambut memiliki banyak manfaat, antara lain bisa menjadi sumber makanan, air bersih, dan keanekaragaman hayati serta mencegah kekeringan, banjir, dan pencampuran air asin untuk irigasi pertanian. Lahan gambut juga memegang peranan penting dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim karena di dalamnya terkandung lebih dari 30% cadangan karbon dunia.

Namun begitu, ketika gambut terbakar, sejumlah besar karbon dioksida dan gas-gas lain akan terlepas ke atmosfer. Hal inilah yang berkontribusi terhadap perubahan iklim dan masalah kesehatan masyarakat yang serius.(*)

Facebook Comments Box